![]() |
| Bagan Pengolahan Kelapa Sawit |
Tampilkan postingan dengan label sterilizer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sterilizer. Tampilkan semua postingan
Senin, 10 Maret 2014
BAGAN PROSES PENGOLAHAN KELAPA SAWIT
Labels:
bagan proses pengolahan kelapa sawit,
Capstand,
CPO,
CST,
depericarper,
Digester,
flow process,
kernel,
lori,
LTDS,
nut pneumatic,
pengolahan kelapa sawit. loading ramp,
Polishing Drum,
press,
sterilizer,
Thresher
Jumat, 07 Maret 2014
Stasiun Perebusan TBS
Stasiun Perebusan sangat
memegang peranan sangat penting dalam memberikan kemudahan pada proses-proses
berikutnya. Perebusan (sterilisasi) merupakan pengolahan mekanis yang pertama
bagi TBS. Tandan-tandan yang berada
dalam lori dipanaskan dengan menggunakan uap jenuh (saturated steam) pada temperatur 127 – 135°C dengan siklus
perebusan 90 – 105 menit didalam sterilizer.
| Gambar 1. Sterilizer/Perebusan |
Temperatur dan lamanya
perebusan tergantung pada tandan yang akan diolah. Jika TBS cenderung kearah
lebih matang maka dengan temperatur yang sama, waktu perebusan akan lebih
pendek. Sebaliknya jika TBS cenderung kearah mentah maka dengan temperatur
sama, waktu perebusan akan lebih panjang.
Pelaksanaan perebusan
dapat dilakukan dengan sistem dua puncak, tiga puncak tergantung kondisi buah
dan sterilizer yang digunakan. Bila
perebusan dengan sistem tiga puncak (triple
peak) berarti tiga kali kenaikan tekanan yang berarti dua kali dilaksanakan
pembuangan condensat selama proses
perebusan berlangsung.
Perebusan
dengan tiga puncak kebutuhan uap jenuhnya relatif lebih banyak dari perebusan
dua puncak dan satu puncak namun efek-efek terhadap proses-proses selanjutnya
akan lebih baik antara lain :
·
Persentase buah tidak membrondol (unstripped bunches) akan lebih kecil
·
Kehilangan minyak dalam ampas lebih kecil
·
Proses klarifikasi minyak akan lebih baik.
Fungsi dari perebusan
adalah :
1. Menghentikan
Aktifitas Enzim
Buah
yang dipanen mengandung enzim lipase oksidase yang tetap bekerja di dalam buah
sebelum enzim tersebut dihentikan. Enzim lipase bertindak sebagai katalisator
dalam pembentukan asam lemak bebas (ALB) sedangkan enzim oksidase berperan
dalam pembentukan peroksida yang kemudian berubah menjadi gugus aldehide dan
kation. Senyawa tersebut bila teroksidasi akan terbentuk asam lemak bebas. Jadi
asam lemak bebas yang terdapat dalam minyak sawit merupakan hasil kerja enzim
lipase dan oksidase. Aktifitas enzim semakin tinggi apabila buah TBS mengalami
kememaran (luka). Enzim pada umumnya tidak aktif lagi bila dipanaskan sampai
temperatur >50°C, maka perebusan dengan temperatur uap >120°C sekaligus
menghentikan kegiatan enzim.
2. Melepaskan
Buah dari Tandannya
Minyak
dan inti sawit terdapat dalam buah, maka untuk mempermudah prosesnya ekstraksi
minyak, buah perlu dipisahkan dari tandannya. Pelepasan buah dari spliket
karena adanya hidrolisa pectin yang terjadi di pengkal buah. Jadi hidrolisa
pectin telah terjadi secara alami dilapangan yang menyebabkan buah membrondol.
Hidrolisa pectin dapat terjadi pula didalam ketel perebusan, dengan adanya
reaksi yang dipercepat oleh pemanasan. Panas dari uap di dalam ketel (sterilizer) akan meresap kedalam buah
karena adanya tekanan. Hidrolisa pectin dalam tangkai tidak seluruhnya
menyebabkan pelepasan buah, oleh karena itu perlu dilakukan proses perontokan
buah didalam mesin Thresing.
3. Menurunkan
Kadar Air
Proses
sterilisasi buah dapat menyebabkan penurunan kadar air buah dan inti, yaitu
dengan cara penguapan baik dari dalam saat direbusan maupun saat sebelum
dimasukan ke Thresher. Interaksi
penurunan kadar air dan panas dalam buah akan menyebabkan minyak sawit dari
antar sel dapat bersatu dan mempunyai viskositas yang rendah sehingga mudah
dikeluarkan dalam proses pengempaan (proses ekstraksi minyak).
4. Melunakkan
Buah Sawit (Mesokrap dan Biji Sawit)
Pericrap
(kulit buah) yang mendapatkan perlakuan panas dan tekanan akan lain. Hal ini
akan mempermudah proses didalam Digester
dan Depericarper/polishing, karena
adanya panas dan tekanan tersebut maka air yang terkandung dalam inti akan
menguap lewat mata biji sehingga proses pemecahan biji lebih mudah (dalam Ripple Mill).
Beberapa sistem perebusan
:
1. Sistem
Single Peak
2. Sistem
Double Peak
Pengendalian proses :
1. Tekanan
kerja dijaga sehingga dapat tercapai tiga puncak. Hal ini dilakukan agar diperoleh
hasil rebusan seperti yang diharapkan yaitu semua buah matang rebus.
2. Menjaga
temperature kerja 135 – 140°C. tujuannya agar uap yang dimasukkan tetap dalam
bentuk uap. Bila temperature kurang dari 135°C maka ada kemungkinan uap berubah
menjadi air karena pengembunan. Bila hal ini terjadi maka perebusan menjadi
tidak sempurna karena kadar air buah yang direbus meningkat.
3. Menjaga
lama waktu perebusan ± 90 menit.
4. Melakukan
pembuangan udara dingin dan air kondensat semaksimal mungkin.
5. Menjaga
kebersihan lingkungan kerja, menjaga keamanan dan kedisiplinan karyawan.
6. Menjaga
tekanan agar tidak melebihi 3 kg/cm2.
Perebusan TBS yang tidak
sesuai dengan SOP yang disepakati akan menyebabkan :
1. Perebusan
yang Terlalu Singkat
a.
Buah belum matang sempurna
b.
Buah sulit membrondol pada saat proses Thresing.
c.
Jumlah katekopen meningkat
d.
Meningkatkan persentase kehilangan minyak
e.
Menghambat proses selanjutnya (pengutipan
minyak sulit)
f.
Dapat merusak mesin
2. Perebusan
Terlalu Lama
a.
Penggunaan uap meningkat
b.
Efisiensi waktu kurang
c.
Minyak banyak yang terhisap ke janjangan
d.
Meningkatkan persentase kehilangan minyak
pada kondensat
e.
Menurunkan rendemen
f.
Minyak yang diperoleh gosong sehingga sukar
dipucatkan
Kelengkapan Rebusan
1. Lori
Lori
berfungsi sebagai tempat penampungan TBS selama proses perebusan. Kapsitas lori
2,5 – 10 tonTBS, lori diberi lubang-lubang
dengan diameter ± 10 mm. Fungsi dari lubang-lubang pada dinding lori
adalah untuk jalan penyebaran uap masuk ke dalam ruang antara TBS dan untuk jalan
keluar kondensat yang terbentuk/timbul didalam ruang lori. Dalam pengisian TBS
jangan sampai melebihi kapasitas lori, sehingga TBS tidak menggunung di atas
lori. Lori yang menggunung akan memberikan efek antara lain :
·
Banyak berondolan yang jatuh tertinggal
didalam ruang sterilizer, saat berlangsung
proses perebusan.
·
Berondolan yang tidak terambil akan
menyebabkan lubang pembuangan kondensat tersumbat, sehingga waktu pembuangan kondensat
masih banyak kondensat yang belum terbuang akibatnya tekanan puncak sulit
dicapai dan keadaan TBS hasil rebusan basah, banyak losses minyak dalam kondensat.
·
Distribusi uap kurang sempurna memungkinkan
TBS hasil rebusan belum seluruhnya masak (uap sukar menembus TBS yang letaknya
dibawah), sehingga effisiensi pada proses thresing
rendah.
2. Capstand
Capstand
berfungsi untuk menarik lori, dari mulai menyiapkan lori untuk dimasukkan ke sterilizer, memasukkan lori ke sterilizer, dan mengeluarkan lori dari sterilizer. Lori ditarik capstand dengan menggunakan tambang
tryllin.
Kamis, 06 Maret 2014
Pengukuran Losses Minyak Pada Proses Pengolahan
| Gambar 1. Losses MS |
Beberapa oil
losses yang terjadi pada proses pengolahan TBS antara lain :
1.
Oil
losses di kondensat sterilizer
Tujuannya adalah untuk mengukur kehilangan
minyak pada masing-masing sterilizer, memonitor
effisiensi sterilization, memonitor
kematangan TBS yang masuk, mempelajari kehilangan minyak yang berhubungan
dengan tipe perebusan (double
atau triple peak), mengetahui
jangka waktu pembersihan sterilizer.
Sampel diambil pada output pipa
kondensat sterilizer tiap rebusan
(tiap 1 siklus diambil sampel).
2.
Oil
losses di tandan kosong (tankos)
Tujuannya adalah
untuk mengukur kehilangan minyak pada tankos, menghasilkan data harian
dari kehilangan minyak untuk keperluan kontrol, mendeteksi buah rebus
yang terlalu matang, dan kapasitas thresher.
Setiap janjangan ke 10 dan 20 diambil untuk sampel tiap 2 jam sekali.
3.
Oil
losses di Unstripped
Bunches (USB)
Tujuannya adalah untuk memantau effisiensi dari
proses sterilisasi dan threshing, memonitor
kehilangan minyak akibat dari proses perebusan yang tidak sempurna.
Sampel diambil sebanyak 100 bh dengan kelipatan 5 diambil 1 sampel.
4.
Oil
losses di fibre
press
Tujuannya adalah untuk mengetahui kehilangan
minyak dan persentasi nut pecah dalam
fibre, menentukan rasio nut/fibre untuk pressing yang optimum. Contoh diambil dalam jumlah yang sama dari
ketiga sudut cones keluaran
press, dilakukan setiap 1 jam sekali.
5.
Oil
losses di St. Klarifikasi
Tujuannya
adalah untuk memonitor effisiensi dari proses klarifikasi. Sampel diambil
dari pipa output St. Klarifikasi
menuju Fat Pit setiap 1 jam sekali.
6.
Oil
losses di sludge
waste
Tujuannya adalah untuk mengetahui kehilangan minyak
dalam sludge waste, mempertahankan efisiensi
sludge centrifuge untuk meminimalkan
kehilangan minyak. Sampel diambil pada pipa sludge
waste setiap 1 jam sekali.
7.
Kernel
losses di fibre
cyclone
Tujuannya adalah untuk mengetahui banyaknya
kehilangan kernel pada fibre cyclone. Sampel diambil di bagian
bawah pemutar sistem fibre cyclone setiap
1 jam sekali.
8.
Kernel
losses di LTDS
Tujuannya untuk
mengetahui kekuatan hisap LTDS dan kehilangan kernel. Sampel diambil dibagian
bawah LTDS cyclone diambil setiap 1 jam sekali.
9.
Kernel
losses di claybath
Tujuannya adalah untuk mengetahui total kehilangan kernel dalam shell. Sampel diambil setelah keluar dari vibrating conveyor setiap 1 jam sekali.
| Gambar 2. Tandan Kosong Kelapa Sawit |
Labels:
Claybath,
double peak,
Kenel Losses,
Kondensat Sterilizer,
losses,
LTDS,
oil losses,
Sludge Waste,
sterilizer,
Tankos,
TBS,
triple peak,
Unstripped Bunches,
USB
Langganan:
Postingan (Atom)



