Tampilkan postingan dengan label TBS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TBS. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Maret 2014

Pengukuran Losses Minyak Pada Proses Pengolahan

Gambar 1. Losses MS

Beberapa oil losses yang terjadi pada proses pengolahan TBS antara lain :
1.    Oil losses di kondensat sterilizer
Tujuannya adalah untuk mengukur kehilangan minyak pada masing-masing sterilizer, memonitor effisiensi sterilization, memonitor kematangan TBS yang masuk, mempelajari kehilangan minyak yang berhubungan  dengan tipe perebusan (double atau triple peak), mengetahui jangka waktu  pembersihan sterilizer. Sampel diambil pada output pipa kondensat sterilizer tiap rebusan (tiap 1 siklus diambil sampel).

2.    Oil losses di tandan kosong (tankos)
Tujuannya adalah untuk mengukur kehilangan minyak pada tankos, menghasilkan data harian dari kehilangan minyak untuk keperluan kontrol, mendeteksi buah rebus yang terlalu matang, dan kapasitas thresher. Setiap janjangan ke 10 dan 20 diambil untuk sampel tiap 2 jam sekali.

3.    Oil losses di Unstripped Bunches (USB)
Tujuannya adalah untuk memantau effisiensi dari proses sterilisasi dan threshing, memonitor kehilangan minyak akibat dari proses perebusan yang tidak  sempurna. Sampel diambil sebanyak 100 bh dengan kelipatan 5 diambil 1 sampel.

4.    Oil losses di fibre press
Tujuannya adalah untuk mengetahui kehilangan minyak dan persentasi nut pecah dalam fibre, menentukan  rasio nut/fibre untuk pressing yang optimum. Contoh diambil dalam jumlah yang sama dari ketiga sudut cones keluaran  press, dilakukan setiap 1 jam sekali.

5.    Oil losses di St. Klarifikasi
Tujuannya adalah untuk memonitor effisiensi dari proses klarifikasi. Sampel diambil dari pipa output St. Klarifikasi menuju Fat Pit setiap 1 jam sekali.

6.    Oil losses di sludge waste
Tujuannya adalah untuk mengetahui kehilangan minyak dalam sludge waste, mempertahankan efisiensi sludge centrifuge untuk meminimalkan kehilangan minyak. Sampel diambil pada pipa sludge waste setiap 1 jam sekali.

7.    Kernel losses di fibre cyclone
Tujuannya adalah untuk mengetahui banyaknya  kehilangan kernel pada fibre cyclone. Sampel diambil di bagian bawah pemutar sistem fibre cyclone setiap 1 jam sekali.

8.    Kernel losses di LTDS
Tujuannya untuk mengetahui kekuatan hisap LTDS dan kehilangan kernel. Sampel diambil dibagian bawah LTDS cyclone diambil setiap 1 jam sekali.

9.    Kernel losses di claybath
Tujuannya adalah untuk mengetahui total kehilangan kernel dalam shell. Sampel diambil setelah keluar dari vibrating conveyor setiap 1 jam sekali.

Gambar 2. Tandan Kosong Kelapa Sawit



Penerimaan TBS di Loading Ramp

Stasiun Loading Ramp adalah tempat untuk pembongkaran TBS yang dikirim dari kebun, tempat sortasi hasil panen, dan tempat penampungan sementara sebelum didistribusikan ke dalam lori-lori TBS. TBS di Loading Ramp tidak boleh ditahan /disimpan terlalu lama karena TBS yang sudah luka atau terlalu masak dari kebun akan mengalami proses kenaikan ALB. Untuk itu perlu diterapkan prinsip FIFO (First In First Out) dalam pendistribusiannya ke lori-lori.
Gambar 1. Pembongkaran TBS ke Loading Ramp

Prinsip FIFO merupakan suatu sistem yang mempunyai maksud segala susuatu yang diterima terlebih dahulu harus dikeluarkan paling awal. Penerapan sistem FIFO di pabrik masih belum dapat terlaksana secara maksimal dikarenakan :
1.      Pengiriman TBS ke pabrik belum dapat distandarkan untuk setiap harinya, sehingga sulit untuk memperkirakan proses produksi yang kontinyu.
2.      Pada saat kiriman TBS melimpah (panen puncak), menyebabkan TBS menumpuk di lantai Loading Ramp dikarenakan kapasitas produksi pabrik tidak sesuai dengan TBS yang masuk.
3.      Kurangnya perhatian dari pihak kebun dalam menerapkan prinsip FIFO sehingga pihak pabrik tidak dapat mengetahui mana buah yang baru di panen dan buah yang telah menginap di kebun. Dalam hal ini pabrik hanya berpatokan mobil yang pertama masuk dianggap sebagai TBS yang baru dipanen.
Fungsi Loading Ramp yaitu :
·         Tempat penampungan sementara TBS dari kebun sendiri atau Pihak ke 3
·         Memudahkan masuknya TBS ke dalam lori
·         Mengurangi kadar kotoran yang terbawa TBS dari kebun
Konstruksi Loading Ramp umumnya sebagai berikut :
1.      Untuk pabrik kapasitas olah 30 ton/jam memiliki kapasitas Loading Ramp 240 ton, sedangkan pabrik kapasitas olah 60 ton/jam memiliki kapasitas Loading Ramp 480 ton (2 unit)
2.      Dimensi dari Loading Ramp (20 pintu) :
·  Panjang                    : 36,0 m
·  Lebar                        :   7,5 m
·  Tinggi dinding       :   2,0 m
·  Panjang pintu         : 1,80 m
·  Lebar pintu             : 1,25 m
·  Jarak sekat               : 2 – 2,5 cm
·  Sudut kemiringan  : 25 - 27°
3.      Sistem buka tutup pintu ada dua macam sistem yaitu dengan penggerak elektromotor dan hidraulik.
Gambar 2. TBS di Loading Ramp saat panen puncak



Jumat, 28 Februari 2014

Standar Mutu Pengolahan Tandan Buah Sawit

Standar mutu pengolahan minyak sawit yaitu :
A.    Mutu Minyak Sawit (CPO)
1.      Kadar ALB minyak produksi        : 5,00 % (Max)
2.      Kenaikan ALB di pabrik                 : 0,30 % (Max)
3.      Kadar air minyak di Oil Tank         : 0,60 % (Max)
4.      Kadar air minyak di Oil Purifier     : 0,45 % (Max)
5.      Kadar air minyak produksi           : 0,10 % (Max)
6.      Kadar kotoran minyak produksi  : 0,01 % (Max)
B.     Mutu Minyak Inti Sawit (PKO)
1.      Kadar ALB minyak produksi        : 5,00 % (Max)
2.      Kadar air minyak produksi           : 0,10 % (Max)
3.      Kadar kotoran minyak produksi  : 0,01 % (Max)
C.     Mutu Inti Sawit
1.      Kadar ALB                                        : 1,50 % (Max)
2.      Kadar air                                           : 7,00 % (Max)
3.      Kadar kotoran                                  : 10,0 % (Max)
4.      Kadar inti pecah                               : 10,0 % (Max)
5.      Kadar inti berubah warna              : 40,0 % (Max)
D.    Kehilangan Minyak
1.      Minyak dalam tankos                     : 6,00 % (Max)
2.      Minyak dalam                                  : 1,00 % (Max)
3.      Minyak dalam serabut                    : 8,00 % (Max)
4.      Minyak dalam air rebusan             : 6,00 % (Max)
5.      Minyak dalam drab LSC                  : 1,20 % (Max)
6.      Minyak dalam solid decanter           : 10,0 % (Max)
7.      Minyak dalam drab separator           : 12,0 % (Max)
8.      Minyak dalam drab akhir                : 0,60 % (Max)
9.      Buah dalam tankos                          : 0,50 % (Max)
10.  Total losses minyak pabrik              : 1,65 % (Max)
11.  QPM                                                   : 93,0 %
E.     Kehilangan Inti
1.      LTDS I                                                : 2,50 % (Max)
2.      LTDS II                                               : 5,00 % (Max)
3.      Inti ikut serabut                                : 2,00 % (Max)
4.      Claybath                                            : 3,00 % (Max)
5.      Total Losses Inti Sawit                    : 0,60 % (Max)

6.      QPI                                                     : 92,0 %
losses minyak sawit yang tertampung di Fat Pit

Kamis, 27 Februari 2014

Sortasi Panen TBS

Sortasi  panen yang dilakukan di Loading Ramp dilakukan oleh petugas laboratorium atau quality control (QC) untuk mengetahui banyaknya TBS yang diterima, berat TBS, dan kualitas TBS yang akan diolah. Kualitas TBS yang akan diolah sesuai dengan kriteria yang ditentukan dan dapat dinilai dengan nilai sortasi panen.
Gambar 1. TBS yang dikumpulkan di TPH

Gambar 2. TBS dibongkar di Loading Ramp

Buah yang masuk ke pabrik memiliki beberapa kriteria, diantaranya :
Fraksi
Jumlah Brondolan
Nilai
00
Tidak ada
-5
0
1 s.d 2 butir/kg tandan
-1
1
> 2 butir/kg tandan s.d 25 % buah lapisan luar
1
2
25 – 50 % buah lapisan luar
2
3
50 – 75 % buah lapisan luar
3
4
75 – 100 % buah lapisan luar
1/3
5
100 % buah lapisan luar dan dalam ikut rontok
-1/3

Kriteria TBS yang tidak diterima di pabrik :

  1. Fraksi 00
  2. Berat TBS < 7 kg
  3. Tankos
  4.  Buah busuk
  5. Buah dura
Hubungan antara Fraksi, ALB, dan Rendemen Minyak :
Fraksi
ALB (%)
Rendemen Minyak (%)
00
-
13
0
1,57
19
1
1,87
23,4
2
2,30
25,1
3
2,71
25,2
4
3,29
25,2
5
4,41
23,9



Rabu, 26 Februari 2014

(Sekilas) Pengolahan Kelapa Sawit (PKS)



Berikut disampikan sekilas tentang Pengolahan Kelapa Sawit...

Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit (PPKS) adalah pabrik yang mengolah tandan buah sawit (TBS) menjadi minyak sawit/Crude Palm Oil (CPO). Bahan baku pabrik kelapa sawit (TBS) dapat berasal dari kebun milik sendiri (inti), kebun kemitraan (Plasma), dan kebun petani perseorangan. Hasil atau produk pengolahan pabrik kelapa sawit yaitu Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel (inti sawit). Inti sawit dapat dikirim ke Pabrik Pengolahan  Inti Sawit (PPIS) untuk mendapatkan Palm Kernel Oil (PKO).

TBS yang datang menggunakan truk setelah sampai pabrik ditimbang terlebih dahulu untuk mengetahui berat TBS yang dibawa untuk diolah. Setelah ditimbang dilakukan sortasi dan pembongkaran di Loading Ramp untuk mengetahui Nilai Sortasi Panen (NSP). NSP ini sangat diperlukan untuk mengetahui mutu panen dan taksasi rendemen yang akan didapat.

Dari Loading Ramp, TBS diturunkan ke dalam lori-lori yang telah disediakan, satu unit Lori dapat menampung TBS sebanyak 2,5 Ton. Lori-lori tersebut dipindahkan menggunakan Capstand ke dalam Sterilizer/Rebusan. Setelah selesai direbus dengan waktu ± 90 - 105 menit lori-lori TBS dikeluarkan dari Sterilizer menggunakan Capstand dan selanjutnya dibawa menuju Hoisting Crane.

Gambar 1. Lori yang telah diisi TBS
Gambar 2. Sterilizer/Rebusan

Lori diangkat menggunakan Hoisting Crane dan TBS yang ada didalam Lori ditumpahkan ke dalam Hopper, TBS matang tersebut perlahan-lahan dimasukkan ke dalam Thresher untuk dipisahkan antara buah dan tandan dengan cara dibanting secara berulang-ulang. Buah yang terlepas atau disebut juga brondolan diangkut melalui conveyor-conveyor menuju Fruit Elevator dan didistribusikan ke dalam Digester (mesin pencacah) untuk dilumatkan dan mempermudah didalam proses pengempaan (pengepresan). Sedangkan Tandan Kosong (Tankos) dibawa Empty Bunch Conveyor menuju tempat penampungan atau langsung diangkut kedalam truk untuk dijadikan pupuk.

Dalam proses pelumatan memerlukan waktu ± 15 - 20 menit dan setelah itu brondolan yang telah dilumat di pres menggunakan Double Screw Press untuk mendapatkan minyaknya. Hasil dari pengempaan/pengepresan adalah minyak dan cakes, minyak hasil pengepresan diencerkan dan kemudian disaring oleh vibrating screen, hasil penyaringan ditampung dalam Crude Oil Tank (COT) dan selanjutnya dipompakan ke Continous Settling Tank (CST) untuk dipisahkan antara minyak dan NOS (Non Oil Solid). Minyak dimasukkan ke Oil Tank melalui skimmer, dari Oil Tank minyak diproses kembali ke Oil Purifier untuk dipisahkan antara air dan kotoran. Dari Oil Purifier dihasilkanlah Crude Palm Oil (CPO) dan disimpan di tanki timbun CPO. NOS dimasukkan kedalam Sludge Tank dan diproses kembali ke Low Speed Centrifuge (LSC), dari LSC dihasilkan minyak dan dipompakan kembali kedalam CST.


Cake yang keluar dari mesin press di uraikan dengan Cake Braker Conveyor (CBC) sekaligus menghantarkan ke Depericarper untuk memisahkan antara fibre dan nut, fibre menjadi bahan bakar boiler sedangkan nut dipoles dalam Polishing Drum dan kemudian dipecahkan menggunakan Ripple Mill, dari Ripple Mill dihasilkan shell/cangkang dan kernel/inti, kernel/inti diolah kembali dalam kernel silo untuk mengurangi kadar air. Kernel dikirim ke PPIS untuk menghasilkan PKO.
Gambar 3. Tanki Timbun CPO/PKO