Jumat, 28 Februari 2014

Standar Mutu Pengolahan Tandan Buah Sawit

Standar mutu pengolahan minyak sawit yaitu :
A.    Mutu Minyak Sawit (CPO)
1.      Kadar ALB minyak produksi        : 5,00 % (Max)
2.      Kenaikan ALB di pabrik                 : 0,30 % (Max)
3.      Kadar air minyak di Oil Tank         : 0,60 % (Max)
4.      Kadar air minyak di Oil Purifier     : 0,45 % (Max)
5.      Kadar air minyak produksi           : 0,10 % (Max)
6.      Kadar kotoran minyak produksi  : 0,01 % (Max)
B.     Mutu Minyak Inti Sawit (PKO)
1.      Kadar ALB minyak produksi        : 5,00 % (Max)
2.      Kadar air minyak produksi           : 0,10 % (Max)
3.      Kadar kotoran minyak produksi  : 0,01 % (Max)
C.     Mutu Inti Sawit
1.      Kadar ALB                                        : 1,50 % (Max)
2.      Kadar air                                           : 7,00 % (Max)
3.      Kadar kotoran                                  : 10,0 % (Max)
4.      Kadar inti pecah                               : 10,0 % (Max)
5.      Kadar inti berubah warna              : 40,0 % (Max)
D.    Kehilangan Minyak
1.      Minyak dalam tankos                     : 6,00 % (Max)
2.      Minyak dalam                                  : 1,00 % (Max)
3.      Minyak dalam serabut                    : 8,00 % (Max)
4.      Minyak dalam air rebusan             : 6,00 % (Max)
5.      Minyak dalam drab LSC                  : 1,20 % (Max)
6.      Minyak dalam solid decanter           : 10,0 % (Max)
7.      Minyak dalam drab separator           : 12,0 % (Max)
8.      Minyak dalam drab akhir                : 0,60 % (Max)
9.      Buah dalam tankos                          : 0,50 % (Max)
10.  Total losses minyak pabrik              : 1,65 % (Max)
11.  QPM                                                   : 93,0 %
E.     Kehilangan Inti
1.      LTDS I                                                : 2,50 % (Max)
2.      LTDS II                                               : 5,00 % (Max)
3.      Inti ikut serabut                                : 2,00 % (Max)
4.      Claybath                                            : 3,00 % (Max)
5.      Total Losses Inti Sawit                    : 0,60 % (Max)

6.      QPI                                                     : 92,0 %
losses minyak sawit yang tertampung di Fat Pit

Asam Lemak Bebas (ALB) atau Free Fatty Acid (FFA)

Apakah ALB atau FFA itu ….?

Asam Lemak Bebas (ALB) atau Free Fatty Acid (FFA), adalah asam yang di bebaskan pada hidrolisa dari lemak. Terdapat berbagai macam lemak, tetapi untuk perhitungan, kadar ALB minyak sawit dianggap sebagai Asam Palmiat.
 
Gambar 1. Buah Kelapa Sawit

Gambar 2. Minyak goreng yang berasal dari buah kelapa sawit

Daging  kelapa sawit  mengandung enzim lipase yang dapat menyebabkan kerusakan pada mutu minyak ketika struktur seluler terganggu. Enzim yang berada didalam jaringan daging buah tidak aktif karena terselubung oleh lapisan vakuola, sehingga tidak dapat berinteraksi dengan minyak yang banyak terkandung pada daging buah. Masih aktif di bawah 15 °C dan non aktif dengan temp diatas 50 °C. Apabila trigliserida bereaksi dengan air maka menghasilkan gliserol dan asam lemak bebas.

CH2RCOO                                            CH2OH
l                                                               l
CHRCOO         +    3H2O     <--->       CHOH                        +          рей RCOOH
l                                                               l
CH2RCOO                                            CH2OH      

TAG    +   H2O    <--->   DAG   +   ALB
DAG   +   H2O    <--->   MAG  +   ALB
MAG   +  H2O    <---->  Gliserol + ALB

Reaksi hidrolisis lemak  bersifat reversible merupakan reaksi kesetimbangan kondisi tercapai bila kecepatan reaksi pemecahan lemak sama dengan reaksi pembentukan lemak.
Reaksi hidrolisis lemak berlangsung secara bertahap yaitu pembentukan isomer diasilgliserol, proses pembentukan alpha & betha monoasilgliserol dan proses pembentukan gliserol.

Sebelum proses ektraksi minyak dilakukan, pertama-tama buah direbus di dalam sterilizer. Salah satu tujuannya yaitu mengnonaktifkan aktifitas enzim. Didalam buah kelapa sawit ada enzim lipase dan oksidase yang tetap bekerja sebelum enzim itu dihentikan dengan cara fisika dan kimia.

Cara fisika yaitu dengan cara pemanasan pada suhu yang dapat mendegradasi protein.
Enzim lipase bertindak sebagai katalisator dalam pembentukan trigliserida dan kemudian memecahnya kembali menjadi asam lemak bebas (ALB).

Enzim Oksidase berperan dalam proses pembentukan peroksida yang kemudian dioksidasi lagi dan pecah menjadi gugusan aldehide dan kation. Senyawa yang terakhir bila dioksidasi lagi akan menjadi asam. Jadi ALB yang terdapat  dalam minyak sawit merupakan hasil kerja enzim lipase dan oksidase.

Aktifitas enzim semakin tinggi apabila buah mengalami luka. Untuk mengurangi aktifitas enzim sampai di pabrik kelapa sawit diusahakan agar buah tidak rusak dan buah tidak busuk. Enzim tersebut tidak aktif lagi pada temperatur 50 °C. Karena itu perebusan di dalam sterilizer pada temperatur 120 °C akan menghentikan enzim.


VARIABEL YANG SANGAT BERPENGARUH TERHADAP ASAM LEMAK BEBAS

Beberapa variabel proses yang sangat berpengaruh terhadap perolehan asam lemak seperti pengaruh suhu, kematangan buah, kadar pelukaan buah, pengadukan, penambahan air, penambahan CPO dan lama penyimpanan.

1.    Pengaruh  Temperatur
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh bahwa kadar asam lemak yang paling tinggi didapat pada suhu kamar (25 °C – 27 °C). Enzim lipase pada buah kelapa sawit sudah tidak aktif pada suhu pendinginan 8 °C dan pada pemanasan pada suhu  50 °C.

Secara umum temperatur sangat berpengaruh pada reaksi kimia, dimana kenaikan temperatur akan menaikkan kecepatan reaksi.  Sifat enzim yang inaktif pada suhu tinggi, maka pada proses enzimatis ada batasan suhu supaya enzim dapat bekerja secara optimal. Penurunan aktifitas enzim pada suhu tinggi diduga diakibatkan oleh denaturasi protein, juga pada suhu rendah, aktifitas enzim juga menurun yang diakibatkan oleh denaturasi enzim.

2.    Pengaruh Penambahan Air
Air mempunyai pengaruh pada reaksi yang terjadi, dan pengaruh ini pada dasarnya adalah membantu terjadinya kontak antara substrat dengan enzim. Enzim lipase aktif pada permukaan (interface) antara lapisan minyak dan air, sehingga dengan melakukan pengadukan, maka kandungan air pada buah akan mampu untuk membantu terjadinya kontak ini.

Pada proses hidrolisa ini, secara stokiometri air pada buah sudah berlebih untuk menghasilkan asam lemak (kadar air pada buah adalah sekitar 28%), tetapi karena air ini berada pada padatan maka perlu dilakukan pelumatan buah dan selanjutnya dilakukan pengadukan. Disamping itu, untuk mengatasi/mencegah kekurangan air. Pengaruh kadar air pada produk yang dicapai sangat besar, dimana kandungan air yang sangat besar ini mengakibatkan reaksi antara asam lemak dan gliserol tidak dapat terjadi dengan baik.

3.    Pengaruh  Pelukaan dan Pengadukan Buah
Enzim lipase tidak berada dalam minyak, tetapi berada dalam serat. Tingkat pelukaan buah dan pengadukan sangat berpengaruh terhadap proses hidrolisa karena akan membantu terjadinya kontak antara enzim dan minyak (substrat). Hal ini karena posisi enzim lipase pada buah sawit belum diketahui secara pasti, sehingga untuk mengatasi hal ini maka buah harus dilumat sampai halus, kemudian minyak dan seratnya dicampur kembali. Dengan proses seperti ini terbukti bahwa kadar asam lemak yang diperoleh lebih tinggi dibandingkan jika buah tidak dilumat sampai halus (hanya dimemarkan/dilukai).

Pengaturan kecepatan pengadukan pada reaksi ini perlu dilakukan, karena pada proses ini pengadukan berpengaruh kepada waktu kontak antara air, substrat dan enzim. Disamping itu, karena yang diaduk adalah campuran serat dan minyak, maka pemilihan rancangan pengaduk sangat perlu untuk diperhatikan.

4.    Pengaruh Kematangan Buah
Buah yang terdapat pada satu tandan buah kelapa sawit tidak akan matang secara serempak. Buah yang berada pada lapisan luar biasanya lebih matang jika dibandingkan dengan buah yang berada pada bagian yang lebih dalam. Hal ini mengakibatkan adanya perbedaan persentase minyak yang terdapat pada setiap buah yang berada dalam satu tandan.

Pada buah kelapa sawit, semakin matang buah maka kadar minyaknya akan semakin tinggi. Dengan semakin tingginya kadar minyak pada buah maka proses hidrolisa secara enzimatis akan semakin cepat terjadi, sehingga perolehan asam lemak akan lebih tinggi.

5.    Pengaruh Lama Penyimpanan
Secara alami asam lemak bebas akan terbentuk seiring dengan berjalannya waktu, baik karena aktifitas mikroba maupun karena hidrolisa dengan bantuan katalis enzim lipase. Namun demikian asam lemak bebas yang terbentuk dianggap sebagai hasil hidrolisa dengan menggunakan enzim lipase yang terdapat pada buah sawit.

6.    Pengaruh Penambahan CPO
Pada proses ini, kecepatan reaksi lebih rendah jika penambahan kadar CPO terhadap campuran antara serat dan minyak semakin meningkat. Hal ini dapat terjadi karena enzim lipase yang berada pada buah sudah jenuh atau jumlahnya terbatas, sementara jumlah substrat sudah sangat berlebih.  Kecepatan reaksi bergantung kepada konsentrasi enzim lipase, bukan pada konsentrasi substrat.

Sifat-sifat enzim lipase adalah sebagai berikut :
·         Temperatur optimum : 35°C, pada suhu 50°C enzim sebagian besar sudah rusak.
·         PH optimum : 4,7 – 5,0
·         Berat molekul : 45000-50000
·         Dapat bekerja secara aerob maupun anaerob
·         ko-faktor : Ca++, Sr++, Mg++. Dari ketiga ko-faktor ini yang paling efektif adalah Ca++
·         Inhibitor : Zn2+, Cu2+, Hg2+, iodine, versene


Sumber : “Water Treatment” 27 Pebruari 2014

Kamis, 27 Februari 2014

Sortasi Panen TBS

Sortasi  panen yang dilakukan di Loading Ramp dilakukan oleh petugas laboratorium atau quality control (QC) untuk mengetahui banyaknya TBS yang diterima, berat TBS, dan kualitas TBS yang akan diolah. Kualitas TBS yang akan diolah sesuai dengan kriteria yang ditentukan dan dapat dinilai dengan nilai sortasi panen.
Gambar 1. TBS yang dikumpulkan di TPH

Gambar 2. TBS dibongkar di Loading Ramp

Buah yang masuk ke pabrik memiliki beberapa kriteria, diantaranya :
Fraksi
Jumlah Brondolan
Nilai
00
Tidak ada
-5
0
1 s.d 2 butir/kg tandan
-1
1
> 2 butir/kg tandan s.d 25 % buah lapisan luar
1
2
25 – 50 % buah lapisan luar
2
3
50 – 75 % buah lapisan luar
3
4
75 – 100 % buah lapisan luar
1/3
5
100 % buah lapisan luar dan dalam ikut rontok
-1/3

Kriteria TBS yang tidak diterima di pabrik :

  1. Fraksi 00
  2. Berat TBS < 7 kg
  3. Tankos
  4.  Buah busuk
  5. Buah dura
Hubungan antara Fraksi, ALB, dan Rendemen Minyak :
Fraksi
ALB (%)
Rendemen Minyak (%)
00
-
13
0
1,57
19
1
1,87
23,4
2
2,30
25,1
3
2,71
25,2
4
3,29
25,2
5
4,41
23,9



Rabu, 26 Februari 2014

(Sekilas) Pengolahan Kelapa Sawit (PKS)



Berikut disampikan sekilas tentang Pengolahan Kelapa Sawit...

Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit (PPKS) adalah pabrik yang mengolah tandan buah sawit (TBS) menjadi minyak sawit/Crude Palm Oil (CPO). Bahan baku pabrik kelapa sawit (TBS) dapat berasal dari kebun milik sendiri (inti), kebun kemitraan (Plasma), dan kebun petani perseorangan. Hasil atau produk pengolahan pabrik kelapa sawit yaitu Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel (inti sawit). Inti sawit dapat dikirim ke Pabrik Pengolahan  Inti Sawit (PPIS) untuk mendapatkan Palm Kernel Oil (PKO).

TBS yang datang menggunakan truk setelah sampai pabrik ditimbang terlebih dahulu untuk mengetahui berat TBS yang dibawa untuk diolah. Setelah ditimbang dilakukan sortasi dan pembongkaran di Loading Ramp untuk mengetahui Nilai Sortasi Panen (NSP). NSP ini sangat diperlukan untuk mengetahui mutu panen dan taksasi rendemen yang akan didapat.

Dari Loading Ramp, TBS diturunkan ke dalam lori-lori yang telah disediakan, satu unit Lori dapat menampung TBS sebanyak 2,5 Ton. Lori-lori tersebut dipindahkan menggunakan Capstand ke dalam Sterilizer/Rebusan. Setelah selesai direbus dengan waktu ± 90 - 105 menit lori-lori TBS dikeluarkan dari Sterilizer menggunakan Capstand dan selanjutnya dibawa menuju Hoisting Crane.

Gambar 1. Lori yang telah diisi TBS
Gambar 2. Sterilizer/Rebusan

Lori diangkat menggunakan Hoisting Crane dan TBS yang ada didalam Lori ditumpahkan ke dalam Hopper, TBS matang tersebut perlahan-lahan dimasukkan ke dalam Thresher untuk dipisahkan antara buah dan tandan dengan cara dibanting secara berulang-ulang. Buah yang terlepas atau disebut juga brondolan diangkut melalui conveyor-conveyor menuju Fruit Elevator dan didistribusikan ke dalam Digester (mesin pencacah) untuk dilumatkan dan mempermudah didalam proses pengempaan (pengepresan). Sedangkan Tandan Kosong (Tankos) dibawa Empty Bunch Conveyor menuju tempat penampungan atau langsung diangkut kedalam truk untuk dijadikan pupuk.

Dalam proses pelumatan memerlukan waktu ± 15 - 20 menit dan setelah itu brondolan yang telah dilumat di pres menggunakan Double Screw Press untuk mendapatkan minyaknya. Hasil dari pengempaan/pengepresan adalah minyak dan cakes, minyak hasil pengepresan diencerkan dan kemudian disaring oleh vibrating screen, hasil penyaringan ditampung dalam Crude Oil Tank (COT) dan selanjutnya dipompakan ke Continous Settling Tank (CST) untuk dipisahkan antara minyak dan NOS (Non Oil Solid). Minyak dimasukkan ke Oil Tank melalui skimmer, dari Oil Tank minyak diproses kembali ke Oil Purifier untuk dipisahkan antara air dan kotoran. Dari Oil Purifier dihasilkanlah Crude Palm Oil (CPO) dan disimpan di tanki timbun CPO. NOS dimasukkan kedalam Sludge Tank dan diproses kembali ke Low Speed Centrifuge (LSC), dari LSC dihasilkan minyak dan dipompakan kembali kedalam CST.


Cake yang keluar dari mesin press di uraikan dengan Cake Braker Conveyor (CBC) sekaligus menghantarkan ke Depericarper untuk memisahkan antara fibre dan nut, fibre menjadi bahan bakar boiler sedangkan nut dipoles dalam Polishing Drum dan kemudian dipecahkan menggunakan Ripple Mill, dari Ripple Mill dihasilkan shell/cangkang dan kernel/inti, kernel/inti diolah kembali dalam kernel silo untuk mengurangi kadar air. Kernel dikirim ke PPIS untuk menghasilkan PKO.
Gambar 3. Tanki Timbun CPO/PKO

Kamis, 20 Januari 2011

Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis Guinensis Jacq)

Bahan baku yang diolah dalam pabrik adalah Tandan Buah Segar (TBS) atau Fresh Fruit Bunch (FFB), yang dapat diperoleh dari kebun sendiri (Inti) ataupun dari tanaman rakyat (Plasma). Tanaman kelapa sawit (elaeis guinensis jack)adalah tanaman palm yang berasal dari benua Afrika dan cocok ditanam di daratan tropis.

Tanaman kelapa sawit pertama kali ditemukan dipantai Guenis Afrika Barat oleh Mr. Jacquin. Oleh penemunya tanaman tersebut diberi nama Elaesis Guinensis jacq. Tanaman ini termasuk keluarga palma yang dapat hidup/tumbuh baik didaerah tropis dengan curah hujan merata sepanjang tahun. Pada mulanya 4 batang kelapa sawit untuk pertama kalinya dimasukkan ke Indonesia yaitu pada tahun 1848 dan dikembangkan di Kebun Raya Bogor. Secara komersial di Indonesia berkembang mulai tahun 1911.

Buah kelapa sawit mempunyai beberapa varietas yaitu :

1.Elaesis Guinensis Jacq (Dura), berasal dari Afrika dengan ciri-ciri :
a. Batangnya tinggi
b. Produksinya tinggi
c. Kadar minyak tak jenuhnya rendah
d. Cangkang tebal

2.Elaesis Oleitera Cortes (Psifera) berasal dari Amerika Latin dengan ciri-ciri :
a. Batangnya pendek
b. Produksinya rendah
c. Kadar minyak tak jenuh tinggi
d. Cangkang tipis/nyaris tidak mempunyai cangkang

3.Kelapa sawit Tenera, berasal dari perkawinan antara jenis Elaesis Guinensis Jacq dengan Elaesis Oiletera Cortes dengan ciri-ciri :
a. Batang tak terlalu tinggi
b. Produksi tinggi
c. Cangkang tipis (sedang)

Dari ketiga varietas tersebut maka untuk kebanyakan kebun kelapa sawit banyak memilih varietas Tenera karena memiliki daging buah yang tebal dan cangkang tipis

Pada umumnya untuk memanen suatu Tandan Buah Segar (TBS) pada tanaman kelapa sawit muda dari tingkat belum menghasilkan ketingkat menghasilkan berbeda-beda. Diantaranya berdasarkan pada umur tanaman dan banyaknya buah yang membrondol dari tandan secara alami.

Umumya tanaman kelapa sawit mulai mulai menghasilkan pada umur 3 – 3,5 tahun. Ada tanaman kurang dari 3 tahun sudah dapat panen buahnya tetapi ada pula tanaman kelapa sawit yang sudah lebih dari 3,5 tahun ditanam belum dapat dipanen. Hal ini dapat disebabkan oleh pembentukan buah serta tanaman yang dipengaruhi oleh sifat tanaman, jenis tanah, iklim, dan pemeliharaannya.

Buah sawit yang telah dipanen berdasarkan syarat-syarat kematangan buah dikirim ke Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit dengan menggunakan truk.

Diambil dari berbagai sumber.

Selasa, 16 November 2010

“GooD BosS”

Saya mendengar seorang anak buah mengomentari atasannya, “Dia memaksa kita menegakkan aturan absensi, tapi dia sendiri tidak mau absen. Alasannya dia bekerja dari rumah, memeriksa pekerjaan, dan mengirimkan e-mail sejak pukul 4 pagi. Tapi, bukankah dia juga tidak memberi contoh?”. Bawahan lain berkomentar, “Dia tidak mengukur kemampuan bawahan, semua dia atur berdasarkan ukurannya sendiri. Bukankah kita tidak punya kapasitas sama dengannya?” Posisi atasan memang jelas-jelas lebih “terlihat”, gerak-geriknya diikuti, sikapnya diperhatikan orang, dan sudah pasti dikomentari. Ada atasan yang peka, tetapi ada juga yang pura-pura tidak tahu. Ada atasan yang terganggu, mencari tahu siapa yang memberi komentar memprovokasi, tetapi ada juga yang melihat ini sebagai kenyataan hidup yang harus dinikmati saja. Pantas saja kita kerap menemukan atasan yang akhirnya menutup telinga ketat-ketat dan akhirnya menjadi “single player”, melakukan “one man show” atau bahkan menjadi diktator, juga menghindar untuk berkomunikasi dengan bawahannya. Situasi ini memang dilematis, karena bias membuat atasan jadi jauh dari team, kemudian kesulitan untuk menemukan perbaikan dalam diri sendiri, tim, dan anak buah.

Manfaatkan kegagalan tim

Searang ahli manajemen pernah mengemukakan, salah satu tes untuk melihat bagus tidaknya seorang atasan atau pemimpin adalah bagaimana sikapnya dalam menghadapi kesalahan yang dibuat anak buah. Ada atasan yang mengatakan, “Yah, kalau sudah terjadi mau diapakan lagi…”, tanpa menyadari bahwa kejadian tersebut bisa dijadikan ajang pembelajaran yang baik. Ada atasan yang langsung menghukum dan mengeluarkan surat peringatan. “ Kalau tidak, mereka tidak pernah belajar dari kesalahan! Mereka harus bisa menghitung, berapa kerugian perusahaan sebagai akibat dari kecerobohannya.” Atasan lain bisa juga menggunakan prinsip, “Sekalian lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya.” Artinya, sekali berbuat kesalahan, anak buah langsung dicoret dari daftar orang yang kompeten. Alangkah merugikannya situasi-situasi demikian!

Kegagalan dan kesalahan biasanya memang dilakukan oleh bawahan, bukan atasan langsung. Namun, bukankah kita perlu ingat ungkapan, “failure sucks but instructs”. Dan “No learning without failure”? kita memang juga perlu bersikap hati-hati dengan kesalahan, apalagi bersinggungan dengan nyawa manusia, misalnya saja kegagalan bedah atau penerbangan. Namun, seorang professor yang menekuni kepemimpinan, mengemukakan bahwa inovasi dan kreatifitas, sangat sulit terjadi bila kita tidak pernah mengalami kegagalan. Beliau mengungkapkan, “Seorang pemimpin atau atasan yang sukses biasanya adalah pemimpin yang justru bisa mengelola kesalahan-kesalahan yang terjadi, bahkan sudah memprediksinya, tetapi ia tetap mampu mengajak seluruh tim mengambil manfaat dari kondisi tersebut.” Kita memang perlu berlatih untuk mengomunikasikan kesalahan yang terjadi secara diplomatis. Rasa bersalah, merasakan kegagalan pelu ada, bahkan sense of crisis dan urgensinya, tetapi semangat “bounching back” tetap harus terjaga. Mengemukakan kesalahan di dalam sebuah forum sebenarnya juga tidak salah, apalagi bila membahasnya sebagai studi kasus, tetapi tentunya pelaku kesalahan tidak boleh merasa terbantai, malu sehingga semua orang “belajar” untuk takut berbuat salah. Dalam sebuah “learning organization”, semua kesalahan harus tercatat dan didokumentasikan sebagai bahan pelajaran bagi generasi berikutnya.

Dimaafkan, diingat, atau dilupakan?

Pernahkan menemukan atasan yang bersikap mengancam dan mengatakan, “Sekali berbuat salah, kamu akan saya pindahkan ke posisi yang tidak menyenangkan” atau “Kalau saya bisa tidak berbuat salah, Anda juga bisa”. Bayangkan bagaimana suasana tim yang tercipta dengan pendekatan ini. Suasana yang mencekam sudah pasti akan mematikan kreativitas tim, sekaligus mematikan kepercayaan anak buah pada atasannya.

Jika sungguh-sungguh ingin menjadi atasan yang baik, kita memang perlu bermain di tepi jurang kesuksesan dan kesalahan. Atasan yang baik siap dengan langkah mundur, punya kemampuan membangun “trust” anak buah dan memberi atmosfer yang menyediakan rasa aman secara psikologis. Kesalahan yang diungkit-ungkit terus tentu saja hanya menimbulkan rasa malu, menjatuhkan moral, dan memupuk sakit hati pada orang yang melakukan kesalahan. Namun, sebetulnya tidak berarti juga bahwa kesalahan harus dimaafkan dan kemudian dilupakan. Hal yang paling penting tentu adalah memaafkan dan sekaligus mengajak timnya untuk mengingat kesalahan tersebut agar bisa belajar dari kesalahan yang pernah terjadi. Kita perlu punya kemampuan untuk memaafkan karena kesadaran bahwa manusia tidak mungkin beroperasi dengan zero error. Tantangan atasan adalah untuk tidak berfokus semata pada kesalahan dan kerugian saja, tetapi mem-balance antara komunikasi asertif dan diplomasi. Kita tentu juga perlu menghadapi sikap defensif bawahan dan menembusnya secara halus dan menyenangkan.

Hal yang juga tidak boleh dilupakan adalah sikap objektif. Seorang teman saya yang sukses, mengatakan bahwa ia selalu mengingatkan bawahannya untuk menyampaikan berita disertai fakta, contoh, dan nama pelaku. “Semua komentar umum dan tidak spesifik, tidak akan masuk pertimbangan saya”. Ia berkata bahwa untuk menilai kesalahan kita tidak bisa menggunakan asumsi dan berandai-andai karena akan menyulitkan dalam mengalkulasikan resiko dan memprediksi kerugian maupun keberuntungan dengan lebih tepat. Dengan senantiasa berorientasi pada objektivitas, kita bisa membuat diri kita menjadi atasan yang lebih “cool”, karena segala kecelakaan, kesalahan, dan kerugian sudah terhitung. “bila data sudah ditangan, kita tinggal memikirkan action yang akan dilakukan,” demikian komentarnya
Sumber : kompas, sabtu 13 nopember 2010